Jika memang tidaklah salah dalam salah satu tulisan yang diterbitkan di web “nuqtoh” tentang opini yang ditulis oleh sahabat Fajar mengenai kualitas mahasiswa dan sistem perguruan tinggi. Tampaknya sahabat Fajar hendak memperlihatkan bagaimana miskinnya perguruan tinggi dalam memenuhi kualitas ideal mahasiswa, hingganya lingkungan yang diciptakan oleh perguruan tinggi tidaklah cukup untuk mebentuknya. Sampai-sampai mahasiswa mesti dituntut untuk mencari di luar jam kelas mereka.
Dari opini diatas kami setuju betul dengan apa yang difikirkan oleh sahabat Fajar, sebab tampaknya perguruan tinggi ini hanya mampu untuk mengurusi hal yang bersifat administratif, sedangkan proses perkembangan prinsip dan tanggung jawab seorang mahasiswa tidaklah kunjung diperhatikan. Perguruan tinggi hanya melihat mahasiswa sebagai klien yang memesan produk uji coba kurikulum, dan sebagai buktinya mereka akan diberi tanda (ijazah).
Mata kuliah yang bersifat positifistik begitu instrumentil hingganya tidak meyentuh Persoalan-persoalan kehidupan secara meluas.
Namun sebetulnya keliru bilamana kita hanya mendorong mahasiswa untuk mencari kebutuhan diluar jam kelas dengan berorganisasi,diskusi, baca buku, atau semacamnya, oleh sebab perguruan tinggi masih miskin. Justru yang mesti kita perhatikan juga adalah kualitas birokrat yang terlalu politis dan normatif-positifistik. Bagaimana kemudian mahasiswa terbentuk oleh dosen, dosen terbentuk oleh kurikulum, kurikukum terbentuk oleh para penanggung jawab dari kurikulum tersebut seperti para Kajur, Dekan, Rektor, beserta jajarannya.
Mereka mestilah menciptaka suatu kurikulum yang lebih bersifat revolusioner dan merakyat, untuk memantik daya fikir dan perkembangan para mahsiswa, mereka harus meninggalkan kursi empuk dan ruangan ber AC nya untuk memeriksa keadaan, mereka mesti duduk bersama mahasiswa dan turut bersama merumuskan apa yang hendak mereka pelajari. Birokrat mestilah melepas jubah-jubah organisasinya, melepas bajunya meyerupai tubuh tani yang hitam terbakar matahari.
Jika kemudian hal demikian sukar untuk tercipta, maka PMII mestilah masuk ke sektor demikian, mesti merebut alat produksinya untuk kemudian melaksanakan struktur sesuai kebutuhan mahasiswa dan rakyat yang sesungguhnya.
Meski demikian, wacana sahbat Fajar memanglah memantik agar supaya mahasiswa berfikir kembali tentang orientasinya, harapannya para birokrat dan para dosen turut menyusul untuk merancang dan menebar wacana yang seirama dengan apa yang sahabat Fajar sampaikan.

Leave a Reply