
Kepulangan Sang Bintang Mahaputera
Pada tanggal 31 Juli 2025 di hari kamis telah berpulang kepada pangkuan Tuhan seorang manusia yang tak jemu-jemu mendermakan dirinya untuk perjuangan agama dan bangsa. ia bernama Surya Dharma Ali (1956-2025) seorang tokoh yang menjadi sebab berkembangnya negara, agama, khususnya organisasi PMII dalam proses transformasinya. Beliau wafat di RS Mayapada Hospital Kuningan (MHKN), Jakarta. Moment duka ini turut mengundang deretan tokoh besar nasional untuk kemudian berbela-sungkawa di kediaman mendiang, seperti Menteri Kebudayaan; Fadli Zon, Menko PM; A. Muhaimin Iskandar, eks Menteri Agama; Lukman Hakim, Ketua Majelis Penasihat PAN; Hatta Rajasa, Menteri Agama; Nasaruddin Umar, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12; Jusuf Kalla, Sinta Wahid. Setidaknya hal demikian menjadi suatu petanda bahwa mendiang adalah seorang tokoh besar dan berpengaruh bagi bangsa dan agama, yang kepulangannya menjadikan suasana keluarga dan bangsa merasa kehilangan sosok panutan.
Disini kita akan mengurai pembahasan dengan mengkerucutkannya pada lapangan organisasi, khususnya ketika seorang mendiang menjabat sebagai ketua umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) pada tahun 1985-1988. Sebab memori sejarah mestilah kita lestarikan sebagai modalitas refleksi yang kemudian menjadi basis gerakan transformatif di kemudian hari. Estafeta semangat perjuangan dalam mempertahankan prinsip serta nilai-nilai yang diyakini mestilah terus hadir dalam persekutuan hidup berorganisasi bahkan bernegara.
Kilas balik kelahiran NDP PMII
Singkatnya, pasca agenda yang memproklamasikan independensi dalam tubuh PMII yang memisahkan diri dari induknya-NU tepatnya pada tahun 1972, organisasi kita PMII tampaknya kehilangan arah dalam praktek gerakannya, sudah barang tentu perubahan struktural ini pada permulaannya mengalami kepincangan yang kemudian menjadi suatu keresahan makro dalam tubuh PMII ini sendiri. Hingganya salah satu cabang mengusulkan untuk kemudian dirumuskannya suatu manifestasi nilai yang berkedudukan sebagai acuan dalam gerakan seluruh kader PMII. Namun narasi demikian sempat mengalami stagnansi yang pada akhirnya rampung dan berwujud pada tahun 1988. Hingganya ini menjadi suatu titik balik organisasi PMII dalam menjalani rutinitas organisasinya hingga sekarang.
Dalam perumusan Nilai Dasar Pergerakan (NDP) ini dipercayakan kepada beberapa cabang untuk merancangnya seperti Cabang Jember, Cabang Surakarta, dan Cabang Yogyakarta, hal ini tentunya ditanggung jawabi oleh PB PMII yang pada saat itu dipimpin oleh mendiang Surya Dharma Ali sebagai Ketua Umumnya. PB PMII periode 1985-1988 ini telah melaksanakan amanat sejarah dan telah mendobrak kejumudan organisasi. Tanpa keteguhan dan keberanian mendiang Surya Dharma Ali tidaklah mungkin PB PMII melaksanakan agenda berat namun mulia tersebut.
Epilog
Kematian bukanlah tentang terhentinya denyut jantung dan nafas, namun kematian adalah tentang stagnansi makna yang terberi. Mendiang Ketua Surya Dharma Ali memanglah telah wafat secara tubuh, namun semangat dan keberaniannya masih hidup berdenyut beriringan dengan proses perkembangan anggota dan kader PMII, pemikirannya yang terus menuntun arah organisasi PMII hingga sekarang. Pembacaan atas sejarah mestilah membutuhkan kehalusan hati, kedalaman spiritual, serta keluasan pikiran sebagai upaya terwujudnya suatu gerakan yang mengakar pada prinsip ideologis dan menjulang pada titik tuju organisasi.

Leave a Reply