
Telah menjadi rahasia umum bahwasannya seorang pelajar di tingkat perguruan tinggi yang disebut sebagai “mahasiswa” dalam tubuhnya memiliki tugas atau tuntutat untuk menjadi agen of change dan social control. Pun pula mereka mendapatkan suatu amanah untuk memiliki kecerdasan, keberpihakan, serta pengabdian kepada masyarakat.
Dalam catatan historis, mereka berperan betul dalam menentukan alur nasib suatu negara, begitupun di negara kita ini yakni Indonesia. Sejak zaman pramerdeka hingga pasca merdeka, mahasiswa menjadi ujung tombak dari setiap dinamika fenomena dan tiap-tiap perubahan didalamnya.
Misalnya, pada tahun 1908 para mahasiswa membentuk suatu organisasi yang bernama “budi utomo” sebagai respown dari kebijakan pemerintahan hindia-belanda saat itu, mereka bergerak di bidang pendidikan yang bersentuhan dengan masyarakat nusantara, tidaklah lain hanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kemudian, peristiwa Rengasdengklok seperti yang sudah pembaca ketahui, didalamnya dikisahkan bahwa Sukarno diculik paksa dan didesak oleh para pemuda untuk kemudian segera merumuskan teks proklamasi sebagai deklarasi kemerdekaan. Sebetulnya, Jepang telah menajanjikan kepada Indonesia untuk memberikan kemerdekaan pada tanggal 22 Agustus 1945 dan itu disepakati oleh Sukarno beserta kroninya, akan tetapi para pemuda brgitu skeptisnya dengan janji Jepang, mereka menduga janji itu hanya bualan atau hanya meninabobokan para pejuang kemerdekaan, tidak jauh dari ucapann janji saat orang berkampanye. Mereka para pemuda yang bergerak dalam perisitwa itu adalah pelajar dan mahasiswa yang mendambakan kemerdekaan, bukan pelajar atau mahasiswa yang apatis terhadap sosial.
Di atas tadi adalah bukti historis bahwa pelajar dan mahasiswa menjadi ujung tombak dari setiap perubahan dan dinamika fenomena di dalamnya, sebetulnya masih banyak pergerakan mahasiswa di negeri ini seperti ; aksi demonstrasi penurunan soekarno, peristiwa malari, reformasi, hingga saat ini mereka tetap intens dalam perjuangan mengawal dan menjaga keadilan.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu dan kemajuan zaman yang mana teknologi-teknologi menjadi lebih modern serta para teknokrat yang kerapkali membangun gedung-gedung pencakar langit, pun pula paradigma berfikir masyarakat yang semakin maju, menjadi berpengaruh dalam setiap pergerakan pelajar dan mahasiswa. Dengan semakin kuatnya hegrmoni barat yang merasuk kedalam negeri, beserta ide-ide dan budayanya telah menjadi pemicu degradasinya kebudayaan pelajar dan mahasiswa, bagaimana tidak, misalnya ide tentang growth yang berisikan tentang pengembangan diri, membangun value diri, dst yang bersifat individualis telah menghipnotis para pelajar dan mahasiswa, ironisnya, ide tentang itu digunakan dalam sistem pendidikan di Indonesia, maka tidaklah heran bilamana pelajar dan mahasiswa terpengaruh oleh ide itu
Pada masa kini, para pelajar dan mahasiswa seecara ide dan spirit terpisah dengan masyarakat, mereka belajar hanya untuk kepentingan individunya, yang mana itu bermuara pada ekonomi, ya tujuan mereka belajar hanya untuk uang, karena mereka akan bahagia ketika mendapatkan uang yang banyak. Dengan demikian mereka tidak akan memikirkan perjuangan sosial, semangat perbuahan, apatis terhadap kebijakan yang tidak adil.

Pembaca bisa menganalisis keadaan realita secara mandiri, lihat saja, ketika ada beberapa mahasiswa yang hendak melaksanakan aksi demonstrasi untuk menuntut keadilan dari pemerintah, sebagian besar dari mahasiswa malah kemudian mencemoohinya, mereka anggap bahwa aksi demonstrasi tidaklah relevan, hal itu akan sia-sia, sementara di sisi lain mereka tidaklah membuat suatu tindakan atas kritiknya. Ya merekalah sampah masyarakat !
Perlu kita ketahui bersama, bahwa dalam politik koreksi bahwa setiap apa yang dilakukan, sekecil apapun itu akan berdampak kepada hal yang besar. Dalam hegemoni gramsci, budaya itu menjadi hal krusial dalam perubahan, maka bilamana budaya kritik kosong tanpa pergerakan, apatis sosial, individualis marak terjadi, itu akan menjadi lahan basah untuk para penguasa yang korup, sebab tidak ada yang akan memperhatikannya.
Betapa mirisnya keadaan budaya pelajar dan mahasiswa sekarang, bilamana pembaca acuh dan berdiam diri saja terhadap realitas ini, maka sama saja pembaca sepakat dengan adanya ketidakadilan, peruban ada di tangan pemuda, pelajar dan mahasiswa, mari kita kembalikan budaya mahasiswa kepada zaman lalu seperti yang dicontohkan oleh para leluhur kita, mereka yang gugur dalam medan aksi demonstrasi telah menunggu perjuangan kita, mereka menunggu adanya perubahan.
Hidup mahasiswa !
Hidup Rakyat !

Leave a Reply