
Sebagai makhluk yang menempati ruang dan waktu, tentunya niscaya kita akan selalu berkecimpung dengan dialektika hingga pada akhir hayat sekali pun. Kerja-kerja dialektika itu terdapat dua hal yang saling bertentangan yang kemudian melahirkan hal baru dari pertentangan tadi. Analoginya ketika seorang gadis menikah dengan seorang pria maka akan melahirkan manusia baru. Kiranya demikian gambaran singkat dari kerja dialektika.
Kita sebagai masyarakat Indonesia yang mana tanah yang kita pijak ini dahulunya pernah dikuasai bangsa asing barat, dan kitalah sebagai bumiputra menjadi yang dikuasai oleh mereka bangsa barat. Maka kemudian sebab dari hal itu tampaklah jelas potret Indonesia saat ini, sistem hukum, sistem ekonomi, kebudayaan, pendidikan, politik, dst adalah hasil dari terapan bangsa mereka. Artinya tidak murni hasil dari proses perumusan bumiputra.
Lantas apa korelasinya dengan membaca ?
Tentu sangat berkorelasi, kita mulai dari analogi sederhana, bahwa kemudian pengetahuan yang bersarang dalam benak kita saat ini adalah hasil dari serapan lingkungan kita, baik dari didikan orang tua, rekan sebaya, serta lingkungan sekolah.
Apakah kita pernah mengkritisi doktrin-doktrin pengetahuan yang mereka sajikan kepada kita itu adalah suatu kebenaran ? apakah pernah kita mencurigai dengan motif apa mereka datang membawa pengetahuan yang siap saji itu ?. Maka disinilah kita bisa menemukan benang merahnya, kita bisa menemukan kedudukan membaca itu.
Seperti yang sudah sedikit kita singgung, bahwa bangsa asing pernah berpuluh-puluh tahun menguasai tanah kita, mereka menjajah kita dan mengeksploitasi semua sumberdaya serta merugikan masyarakat lokal, tidak sedikit pembunuhan-pembunuhan yang dilancarkan mereka kepada masyarakat lokal kita. Motif mereka berbuat demikian bengisnya itu hanya untuk memperpanjang kekuasaannya yang jika kita tarik lebih jauh akan bermuara para pertarungan ideologi besar antara Amerika dengan kapitalisnya dan Uni Sovyet dengan Marxisme-Leninismenya. Kita kembali kepada motif bangsa barat yang hendak memperpanjang kekuasaannya, tentunya strategi-strategi akan mereka lancarkan demi kepentingannya, termasuk mereka gunakan pendidikan sebagai senjatanya.
Sejarah menjadi ujung tombaknya, mereka bisa saja menulis sejarah palsu untuk kemudian menipu masyarakat lokal yang mungkin sampai pada saat ini sejarah itu masih diajarkan oleh sekolah-sekolah kepada para muridnya. Itu adalah probabilitas yang tidak dapat kita pungkiri keniscayaannya.
Oleh karena itu, dengan upaya membaca baik dalam disiplin ilmu manapun kita bisa melihat suatu realitas dari lapangan yang lebih tinggi, kita bisa melihat jelas dinamika masalalu, masa kini, pun masa depan. Selain untuk itu, kita bisa mendapat pengalaman para penulis sehingga itu bisa menjadi suatu referensi dalam memertimbangkan suatu tindakan, kekuatan nalar pun terasah, kebijaksanaan menjadi lebih luas.
Perlu kita ketahui bersama, bahwa Indonesia bisa mengusir para bangsa asing lantaran pendahulu kita membaca, tifak ada pahlawan kemerdekaan yang bergerak kosong tanpa ada landasan atau kosong dalam otaknya. Mungkin saja jika para pahlawan apatis terhadap ilmu maka sampai saat ini tidak akan ada negara yang bernama Indonesia.
Oleh karena itu kawan-kawan, yang masih malas untuk membaca, bangunlah diskusi dan refleksikan ulang secara filosofis betapa krusialnya membaca itu, dan kawan-kawan yang sudah memulainya teruslah haus akan membaca seperti engkau meminur air samudra. Suatu saat kita akan menyadari bahwa sampai saat ini, di negeri kita dipenui dengan kebohogan-kebohongan yang membabibuta, diskusikan ulang bersama rekan sebaya dan lawanlah !
Hidup mahasiswa!
Hidup rakyat !

Leave a Reply